Sejak merdeka pada 1947, India dikenal sebagai negara agraris. Upaya dan kerja keras selama beberapa dekade telah mentransformasi negara ini — dari yang sebelumnya bergantung pada impor biji-bijian menjadi negeri yang mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri dan berkembang menjadi pengekspor pangan. Dengan luas wilayah sekitar 3,3 juta km², yang membentang dari pegunungan Himalaya di utara hingga hutan tropis di selatan, India kaya akan sumber daya alam. Selain pertanian, enam sektor utama penopang ekspor India adalah kendaraan/mobil, barang elektronik, produk kimia, tekstil, industri mesin, dan farmasi — termasuk farmasi veteriner. Pelabuhan JNPT Mumbai menjadi pintu masuk utama lalu lintas ekspor-impor negara ini.
Secara demografis dan peternakan, India memiliki peran penting di panggung global. Populasi sapi pada 2021 tercatat sekitar 306 juta ekor — salah satu yang terbesar di dunia — dan India menempati peringkat teratas untuk kerbau, peringkat kedua untuk sapi dan kambing, peringkat ketiga untuk domba, serta peringkat kelima untuk unggas. Berdasarkan sensus 2019, populasi unggas mencapai sekitar 851,81 juta ekor. India juga adalah produsen susu nomor satu dunia dengan total produksi sekitar 210 juta ton pada 2020; ketersediaan susu per kapita per hari pada 2020 sekitar 427 gram, lebih tinggi dari rata-rata dunia.
Industri perunggasan mengalami lompatan besar dalam empat dekade terakhir: dari usaha rumah tangga konvensional menjadi industri komersial berbasis teknologi. India menempati peringkat ketiga produsen telur dunia (122,11 miliar butir pada 2020–2021) dan peringkat keempat untuk volume produksi daging ayam, dengan produksi daging (termasuk unggas) sekitar 8,8 juta ton pada 2020. Produksi ikan juga signifikan — total sekitar 14,73 juta ton pada 2020–21, terdiri atas 11,25 juta ton ikan air tawar dan 3,48 juta ton ikan laut. Sektor peternakan, susu, dan perikanan berkontribusi penting pada pendapatan keluarga dan penyerapan tenaga kerja di kawasan pedesaan; sekitar 87,7% peternakan dimiliki oleh petani marginal, peternak kecil, dan kelas menengah ke bawah, dengan sekitar 20,5 juta orang bekerja di segmen ini — hampir 50% di antaranya adalah tenaga kerja perempuan.
Perunggasan adalah salah satu subsektor peternakan yang tumbuh cepat dan menarik investasi domestik maupun asing; lebih dari 5,5 juta orang bekerja di sektor ini. Dalam enam tahun terakhir konsumsi telur per kapita di India naik dari sekitar 30 menjadi 70 butir per tahun, sementara konsumsi daging ayam naik dari 400 gram menjadi 3,4 kg per tahun. Meski demikian, tingkat konsumsi tersebut masih relatif rendah dibanding rata-rata global, dan permintaan diperkirakan akan terus meningkat.
Pemerintah mendorong modernisasi melalui program seperti National Livestock Mission (NLM) dan pengembangan Central Poultry Development Organisations (CPDOs) yang berlokasi di Chandigarh, Bhubaneswar, Mumbai, dan Bengaluru. CPDOs berperan penting dalam perbaikan bibit lokal, penelitian pakan, pelatihan peternak, serta distribusi telur tetas, DOC parent stock, dan DOC komersial untuk meningkatkan produktivitas di tingkat perdesaan. CPDOs juga mengembangkan strain unggas lokal seperti Kalinga Brown, Kaveri, Chhabro, dan Chann, serta mempertahankan ras asli seperti Kadaknath dan Aseel untuk konservasi. Fasilitas modern seperti Near InfraRed (NIR) spectrophotometer dan sistem otomatis pemberian pakan telah dipasang di beberapa pusat untuk mendukung pelatihan dan praktik budi daya.
Ancaman penyakit menjadi tantangan serius: sejak 2006 India melaporkan kejadian H5N1 Avian Influenza dan pemerintah menerapkan kebijakan pencegahan yang ketat, termasuk surveilans, respons cepat, pemusnahan dalam radius tertentu, serta peningkatan fasilitas laboratorium dan SDM. Untuk diagnosis, empat laboratorium dengan standar BioSafety Level-3 (BSL-III) telah dibangun di Jalandhar, Kolkata, Bangalore, dan Bareilly, serta tersedia laboratorium mobile BSL-III untuk penanganan di lapangan. Pemerintah juga mengedukasi masyarakat tentang pencegahan dan penanganan wabah serta melarang impor unggas dari negara yang positif HPAI.
Industri obat hewan di India berkembang pesat dan memegang peran penting dalam menjaga keberlangsungan peternakan. Perkiraan pasar lokal menunjukkan nilai yang besar — diperkirakan mencapai ratusan miliar Rupee — dengan segmentasi produk mencakup nutrisi, antiparasit, antibakteri, biologik, dan lain-lain. Regulasi berada di bawah Veterinary Cell of CDSCO untuk peredaran produk, sedangkan registrasi teknis melibatkan Department of Animal Husbandry and Dairying, Department of Fisheries, serta Indian Veterinary Research Institute (IVRI) untuk studi biologis. Organisasi seperti INFAH (Indian Federation of Animal Health Companies) menjadi wadah bagi perusahaan untuk meningkatkan standar etika, kolaborasi riset, dan hubungan internasional melalui afiliasi dengan badan global.
Beberapa perusahaan nasional besar di bidang obat hewan dan vaksin, seperti Venky’s, Hester Bioscience, Indovax, Himalaya Wellness (yang juga mengekspor produk berbasis herbal ke banyak negara), serta berbagai perusahaan swasta dan anak usaha internasional, memperkuat ekosistem kesehatan hewan India. INFAH berperan memfasilitasi riset, pelatihan, etika bisnis, dan penyusunan kebijakan sehingga industri kesehatan hewan dapat terus mendukung produktivitas ternak secara berkelanjutan. Dengan populasi besar, sumber daya alam, dan kebijakan yang mendukung modernisasi, India terus menegaskan posisinya sebagai kekuatan penting dalam pangan, peternakan, dan industri obat hewan di kancah global.





