Penyakit bakterial unggas utama yang sering menimbulkan masalah dalam industri perunggasan dikenal dengan istilah C6, yaitu CRD, Coli, Coryza, Cholera, Clostridium, dan Coccidiosis. Lima yang pertama merupakan penyakit bakterial, sedangkan Coccidiosis adalah penyakit protozoa yang sangat berkaitan dan menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit bakterial unggas. Epidemiologi penyakit C6 ini sangat berpengaruh dalam pemilihan antibiotika yang dipakai dalam penanggulangan penyakit, mengingat adanya perbedaan sensitivitas kuman penyebab penyakit terhadap karakteristik dan kemampuan beberapa jenis antibiotika.

Sampai dengan pertengahan tahun 2023, ada 45 jenis antibiotika yang resmi beredar di Indonesia dan produk komersial yang mengandung antibiotika-antibiotika tersebut telah memiliki nomor registrasi dari pemerintah. Dengan jumlah merek dagang lebih dari 700 buah, produk antibiotika ini sekitar 80 persen diposisikan untuk pasar unggas, dan sisanya untuk hewan besar, hewan kecil, serta aneka ternak. Namun demikian ada sediaan produk antibiotika yang dapat digunakan untuk semua jenis ternak. Akibat larangan penggunaan antibiotika Colistin untuk hewan, sekitar 30 merek obat yang mengandung Colistin harus dibatalkan atau komposisinya harus diganti dan indikasinya disesuaikan.

Segmen pasar
Segmen pasar antibiotika untuk unggas, berdasarkan keamanan pangan, dibagi menjadi tiga segmen. Segmen pertama adalah segmen broiler dan ayam pejantan; segmen kedua adalah segmen pullet atau pra-layer (starter, grower, developer); dan segmen ketiga adalah segmen ayam petelur. Hal ini juga berlaku untuk itik dan unggas lainnya karena pembagian ini didasarkan pada keamanan residu antibiotika. Pada segmen ayam pedaging diwajibkan adanya pembatasan waktu (withdrawal time) penggunaan antibiotika tertentu sebelum ayam dipotong. Pada segmen ayam pullet tidak ada batas penggunaan antibiotika karena ayam ini secara umum tidak akan dipotong dan juga belum menghasilkan telur, sedangkan pada segmen ayam yang memproduksi telur, antibiotika yang akan menyebabkan residu pada telur tidak diperkenankan untuk dipakai, atau boleh dipakai tetapi telurnya tidak boleh diedarkan untuk dikonsumsi manusia.

Namun demikian, segmen pasar yang lebih mendapat perhatian para pengguna dan pemasok obat hewan adalah berdasarkan penyebab penyakit, di mana lima penyakit bakterial terdepan (CRD, Coli, Coryza, Cholerae, dan Clostridium) memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap satu jenis antibiotika, sehingga para product manager mengelompokkannya dalam subsegmen pasar yang berbeda. Berdasarkan data tahun 2023, antibiotika yang memiliki merek dagang terbanyak di Indonesia adalah Enrofloksasin (93 merek), Amoksisilin (73 merek), dan Oksitetrasiklin (68 merek). Ketiga antibiotika tersebut berasal dari kelompok yang berbeda: Enrofloksasin (Fluoroquinolon), Amoksisilin (Betalaktam), dan Oksitetrasiklin atau OTC (Tetrasiklin), dimana Doksisiklin, antibiotika yang cukup handal dan populer, ada di kelompok ini. Ketiga antibiotika tersebut dalam keadaan normal memiliki perbedaan dalam daya kerja serta efektivitasnya terhadap CRD, Coli, Coryza, Cholerae, atau Clostridium. Selain ketiga kelompok tadi, ada kelompok antibiotika lain yang juga dominan di pasar domestik Indonesia yaitu kelompok Makrolida yang memiliki 123 merek dagang, yang didominasi oleh Tylosin (56 merek), Eritromisin (38 merek), Tilmicosin (13 merek), dan Spiramycin (10 merek).

Positioning antibiotika
Penempatan satu antibiotika dalam portofolio produk sebagai bagian dari strategi pemasaran dipengaruhi oleh spektrum kerja antibiotika. Panduan umum menyarankan agar pengklasifikasian terbagi dalam tiga kelompok terapi yaitu:

  1. Antibiotika kemoterapi spektrum luas: Betalaktamik, Fluoroquinolon, Tetrasiklin, dan Sulfonamida.
  2. Antibiotika kemoterapi untuk bakteri Gram negatif: Aminoglikosida, Quinolon generasi pertama.
  3. Antibiotika kemoterapi untuk bakteri Gram positif: Makrolida.

Di antara golongan tersebut diketahui adanya sinergisme antara quinolon dengan betalaktam dan aminoglikosida; eritromisin dengan sulfonamida dan aminoglikosida; sulfamid dengan doksisiklin. Namun demikian, sinergi kombinasi antibiotika lain masih dimungkinkan mengingat perkembangan dan penemuan antibiotika generasi baru.

Tersedianya data resistensi kuman sangat penting dalam menentukan positioning produk antibiotika. Dengan adanya regulasi yang semakin ketat dalam penataan antibiotika maka perlu ditetapkan mana produk yang akan dipertahankan dan produk mana yang akan didrop atau dipensiunkan. Data resistensi sebaiknya dielaborasi lebih lanjut berdasarkan teori resistensi silang (cross resistance) antar anggota antibiotika yang berada dalam satu kelompok. Oleh karena itu, sangat bijaksana bila pengguna lebih berhati-hati dalam memilih antibiotika, karena resistensi terhadap satu antibiotika juga dapat terjadi pada antibiotika lain dalam kelompok yang sama. Misalnya, kuman yang resisten terhadap Eritromisin juga akan resisten terhadap antibiotika kelompok Makrolida yang lain generasi yang sama seperti Tylosin, Spiramycin, Oleandomisin, Josamisin, atau Kitasamisin. Namun demikian, untuk makrolida generasi baru seperti Tilmicosin, Tilvalosin (Aivlosin), atau Tildipirosin perlu penelitian lebih lanjut apakah terdapat pola resistensi silang yang sama atau perbedaan signifikan sehingga pemakaiannya dapat dijadikan alternatif yang lebih baik atau efektif.

Demikian pula halnya dengan kelompok Fluoroquinolon yang secara keseluruhan memiliki 176 merek dagang dan diyakini sebagai market leader antibiotika untuk unggas, terdapat laporan mengkhawatirkan tentang tingkat resistensinya terhadap beberapa bakteri seperti Mycoplasma, E. coli, Pasteurella multocida, Avibacterium paragallinarum, dan Clostridium perfringens penyebab Necrotic Enteritis. Generasi baru dari kelompok ini yang sudah terdaftar di Indonesia antara lain Levofloksasin dan Marblofloksasin.

Segmen antibiotika untuk Coryza
Untuk pengobatan Coryza, Amoksisilin dengan Asam Clavulanat memiliki efektivitas tinggi terhadap Avibacterium paragallinarum penyebab Coryza. Namun antibiotika ini tidak efektif untuk Mycoplasma gallisepticum (MG) penyebab CRD, karena MG tidak memiliki dinding sel sedangkan sasaran utama Amoksisilin adalah dinding sel bakteri. Enrofloksasin dalam kondisi normal efektif terhadap MG penyebab CRD dan juga Colibacillosis. Yang dimaksud kondisi normal adalah potensi dan spektrum antibiotika sesuai referensi ketika produk dilepas ke pasaran; kondisi ini berubah di setiap daerah sesuai frekuensi pemakaian, kesesuaian penggunaan, serta tingkat resistensi kuman. Menurut laporan penelitian di Yogyakarta, sebagian besar Enrofloksasin telah resisten terhadap bakteri penyebab Coryza. Dengan informasi ini para pemasar dan pengguna antibiotika harus menyesuaikan pemilihan produknya. Positioning antibiotika yang ditujukan untuk pengobatan Coryza atau snot harus selalu digantikan oleh antibiotika lain yang menurut hasil uji sensitivitas masih efektif, karena resistensi kuman akan menyebabkan gagalnya pengobatan. Untuk wilayah Istimewa Yogyakarta misalnya, Gentamisin ternyata 75 persen masih efektif dan 25 persen sudah resisten terhadap Avibacterium paragallinarum, sedangkan Eritromisin sebagian sudah resisten dan sisanya intermediate. Preparat Sulfamethoksasol dapat dikatakan semuanya sudah resisten dan tidak dianjurkan lagi untuk pengobatan snot pada unggas.

Segmen antibiotika untuk CRD
Segmen pasar antibiotika untuk CRD saat ini terdiri atas antibiotika tunggal yang efektif untuk Mycoplasma gallisepticum dan Escherichia coli, serta antibiotika kombinasi yang efektif terhadap salah satu dari kuman tersebut sehingga pemakaiannya harus digabungkan. Pengertian CRD di sini adalah penyakit yang disebabkan oleh MG disertai infeksi sekunder oleh E. coli, yang oleh sebagian praktisi disebut CRD complex. Antibiotika Doksisiklin pada segmen ini dilaporkan superior terhadap Mycoplasma. Tylosin efektif bila digunakan sendiri pada kasus ringan, tetapi untuk kasus berat biasanya dikombinasikan dengan Doksisiklin. Lincomycin dikombinasikan dengan Spectinomycin merupakan antibiotik larut dalam air minum yang bekerja baik dan di beberapa negara tidak memiliki batas waktu penggunaan (withdrawal time) pada ayam petelur. Chlortetracycline bekerja baik walaupun tidak sebaik Doksisiklin, tetapi kelebihannya tidak memiliki batas waktu penggunaan pada ayam petelur. Enrofloxacin efektif untuk Mycoplasma dan bakteri sekunder lainnya. Amoksisilin sering dikombinasikan dengan asam klavulanat untuk mengobati infeksi bakteri sekunder dan ancaman bakteri resisten. Dalam keadaan tertentu dokter hewan perunggasan juga menggunakan obat antibiotika tetes mata dan tetes hidung unggas, di mana cara ini sangat efektif karena antibiotika dapat langsung mencapai tempat infeksi.

Acetyl IsoValeryl Tylosin Tartrate atau Tylvalosin (Aivlosin) adalah antibiotik makrolida hewan generasi ketiga berspektrum luas yang menghambat sintesis protein bakteri dan pertumbuhan bakteri yang rentan. Tylvalosin Soluble bersifat larut dalam lemak dan memiliki kapasitas menembus membran sel sehingga menunjukkan sifat farmakologis sangat baik, aktivitas antibakteri tingkat tinggi, serta konsentrasi plasma yang memadai. Keunggulan ini menjadikan Tylvalosin Soluble sebagai alternatif andal melawan bakteri rentan di bidang kedokteran hewan. Selain efek antimikroba langsung, Tylvalosin menunjukkan aktivitas antioksidatif dan anti-inflamasi, menurunkan cedera jaringan serta mengurangi rekrutmen dan aktivasi sel inflamasi. Antibiotika ini juga menunjukkan kemanjuran baik terhadap Mycoplasma gallisepticum, Mycoplasma synoviae, dan Clostridium spp. penyebab Necrotic Enteritis.

Segmen antibiotika untuk Clostridium spp.
Necrotic Enteritis kini menjadi penyakit yang sering mengancam ayam ras. Clostridium pada unggas terdiri atas dua spesies penting: Clostridium colinum penyebab ulcerative enteritis dan blue wing disease; serta Clostridium perfringens penyebab Necrotic Enteritis dan gangrenous dermatitis. C. perfringens adalah bakteri gram positif berspora yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan melalui produksi toksin mayor dan minor. Selain tindakan pencegahan seperti sanitasi dan biosekuriti, beberapa antibiotika terbukti efektif untuk mengatasi penyakit ini, kecuali apabila ditemukan tingkat resistensi baru. Antibiotika terpilih antara lain Bacitracin Methylene Disalicylate (BMD), Lincomycin, beberapa antibiotika golongan beta-laktam, dan makrolida.

Segmen antibiotika untuk Cholera Unggas (Pasteurella multocida)
Penyakit kolera unggas meliputi kategori pernapasan dan pencernaan karena gejala klinis terdeteksi pada kedua saluran tersebut. Penyakit ini sangat menular dengan morbiditas dan mortalitas tinggi, namun infeksi kronis tanpa gejala juga terjadi dan menjadi sumber penularan. Penyebaran P. multocida terutama melalui ekskresi dari mulut, hidung, dan konjungtiva unggas sakit yang mencemari lingkungan; kuman juga dapat bertahan lama pada peralatan, karung pakan bekas, sepatu, dan peralatan lain yang terkontaminasi. Infeksi Pasteurella tidak ditularkan melalui telur. Antibiotika efektif terhadap Pasteurella spp. antara lain Gentamicin, Doxycycline, Erythromycin, Neomycin, Ampicillin, Trimethoprim + Sulfa, dan Kanamycin.

Segmen antibiotika untuk Colibacillosis
Penyebaran E. coli dapat melalui saluran pernapasan saat udara berdebu dan tercemar unggas yang sebelumnya menderita gangguan pernapasan. Bakteri yang terhirup menginfeksi dan berkembang di dalam tubuh, biasanya lokal pada kantung udara yang menunjukkan penebalan dan keruh. E. coli pada sistem pernapasan dapat dipicu oleh reaksi vaksinasi, iritasi debu, serangan amonia; bila dibiarkan akan menyebabkan infeksi pernapasan sekunder seperti pada kasus CRD. Bakteri ini juga menyerang saluran pencernaan yang mengalami luka karena Coccidiosis, racun kuman, kualitas air buruk, atau perubahan pakan tiba-tiba. Luka pada mukosa menjadi pintu masuk bakteri ke aliran darah, menyebabkan peradangan, penebalan dinding usus, edema, dan keluarnya lendir bercampur darah, yang membuat ayam lesu, diare, dan penurunan produksi. Untuk mengatasi Avian Pathogenic Escherichia coli (APec) dapat digunakan alternatif antibiotika seperti Gentamisin, Enrofloksasin, Amoksisilin, dan Makrolida.

Momentum dan timing penggunaan antibiotika
Karena bias informasi serta minimnya penyuluhan profesional, banyak peternak masih memberikan antibiotik rutin berdasarkan kebiasaan pendahulu tanpa mempertimbangkan kondisi bibit ayam yang kini telah berubah. Meskipun banyak pembibit ayam memperoleh sertifikat bebas penyakit bakterial dan memenuhi syarat sebagai kompartemen bebas Avian Influenza, kenyataannya masih didapat DOC yang kualitasnya meragukan dan diduga sudah mengandung bibit penyakit ketika sampai di kandang. Oleh karena itu diperlukan diagnosa akurat sebelum menentukan pilihan antibiotika, karena ada penyakit yang penularannya bersifat horizontal, tetapi ada juga yang bersifat vertikal dan horizontal seperti CRD.

Aspek yang perlu diperhatikan agar pemberian antibiotika efektif dan efisien antara lain: menyiapkan kualitas air minum yang baik — bersih, jernih, kadar mineral minimum, tidak terkontaminasi, dan pH netral; memastikan peralatan pengobatan, tempat persediaan, saluran air minum dan nipple bersih dan lancar. Penting diingat bahwa dosis antibiotika yang diperkenankan saat ini adalah dosis pengobatan atau terapi; tidak diperbolehkan lagi menggunakan dosis pencegahan.

Mengingat prinsip penggunaan antibiotika sekarang adalah untuk pengobatan, bukan pencegahan, penggunaan antibiotika yang dikombinasikan dengan zat untuk mengurangi gejala klinis (misalnya Bromheksin untuk mengurangi lendir atau Paracetamol untuk menurunkan demam) harus dicermati dan dievaluasi sehingga antibiotika benar-benar efektif memberantas agen penyakit, sementara zat tambahan hanya berfungsi mengurangi simptom agar ayam nyaman. Dalam praktik lapangan, mendiagnosa flok yang sakit dan yang aman harus dilakukan hati-hati. Karena penyebaran penyakit bakterial cepat, seringkali pengobatan dilakukan pada flok sakit serta flok berdekatan bersamaan dengan penerapan biosekuriti lebih ketat, yang membuat biaya pengobatan mahal. Pertimbangan pengobatan sebaiknya tidak didasarkan pada pembatasan anggaran, tetapi pada prognosis yang menjadi dasar pemilihan obat, dosis, lama pengobatan, dan aplikasi pengobatan.

Prospek pasar antibiotika
Secara global pangsa pasar antibiotika diprediksi menurun karena pengetatan aturan oleh organisasi kesehatan dunia akibat resistensi antimikroba yang disebut sebagai pandemi tersembunyi. Banyak negara sudah menyesuaikan peraturan lokalnya sehingga pemakaian antibiotika untuk hewan konsumsi mulai menurun. Namun antibiotika untuk pengobatan masih tetap dibutuhkan karena penyakit infeksi masih menjadi masalah utama, khususnya di negara berkembang.

Beberapa jenis antibiotika oleh pemerintah Indonesia sudah dilarang karena efek samping negatif, antara lain Furaltadone yang dapat menghambat pertumbuhan, Furazolidone yang dapat menurunkan daya tetas, Colistin kini hanya diperuntukkan untuk pengobatan manusia, serta Chloramfenicol dan derivatnya. Produk sulfa menunjukkan tren pemasaran menurun karena efek samping terhadap pengikatan kalsium, namun beberapa sulfa dan kombinasi dengan Trimethoprim masih banyak digunakan peternak untuk mengatasi penyakit bakterial. Beberapa produk yang memiliki kekurangan tersebut masih digunakan di negara-negara Asia Selatan, sebagian negara ASEAN, Timur Tengah, dan negara-negara Afrika. Oleh karena itu, perusahaan eksportir obat hewan ke negara-negara tersebut harus berkonsultasi dengan pihak berwenang mengenai kemungkinan izin peredaran khusus dan potensi pasar yang besar.

Oleh: drh. Dedy Kusmanagandi*
Wakil Ketua Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *